Showing posts with label Bahasan Unfaedah. Show all posts
Showing posts with label Bahasan Unfaedah. Show all posts

STUDY TOUR "katanya"


Rabu, 01 Mei 2019.



Hari ini, bukan hari yang panas untuk berjalan-jalan kan? jadi hari ini temanku yang udah kenal dari SMK, sebut saja namanya "panda" datang ke kampus ku "UTM" hanya untuk melihat-lihat, dia ingin membuktikan se keren apa sih kampus ku ini, karena dia hanya sekedar tau kampus ku lewat vidio-vidio penuh filter yang ada di instagram. disini aku merasa bingung, apa yang harus aku tunjukan kepada temanku ini?.

Jadi hal pertama yang aku pikirkan adalah mengajaknya masuk ke kampus, disini panda tiba-tiba bilang "ini tinggal masuk? gak ada tiket?" aku sempat ingin ketawa ngakak hanya karena omongan dia yang tiba-tiba, aku hanya teringat ricuhnya UTM saat masih menggunakan tiket sebagai syarat masuk ke kampus, dan itu mengingatkanku lagi pada salah satu temanku yang bertindak curang karena tidak membawa STNK, rejeki anak sholeh katanya.

Panda sempat sedikit kebingungan, mau memulai dari mana, di posisi ini aku juga kebingungan karena tak pernah menjadi tour guide, jadi aku mengajaknya berhenti di depan denah kampus yang terdapat di jalan menuju fakultas teknik, panda disini terlihat excited ingin mengetahui mana gedung cakra, aku makin heran, se bagus apa sih Gedung Cakra yang di tunjukkan oleh mahasiswa UTM di instagram?

Karena panda sangat bersemangat melihat UTM, aku mengajaknya menuju lantai 5 Gedung Cakra, but wait "WTF dude! liftnya rusak" karena rusak, baiklah ada tangga, sekali lagi aku kaget, "kenapa lantai 3 keatas ditutup?" gagal sudah harapan melihat UTM dari atas, aku sedikit kecewa mengetahui hal ini, jarang terjadi padaku, ini pertama kalinya aku melihat lantai 3 ke atas ditutup.

tak ada pilihan lagi, aku mengajak panda berkeliling dan hanya sekedar mengenalkan setiap gedung-gedung di UTM, sampai kami lelah dan beristirahat di gazebo depan Lab Fakultas Teknik, disinilah aku dan panda mulai membandingkan antara kampusnya "UPN Veteran" dan kampusku "UTM"

"kampusmu loh luas, lebih luas dari UPN"
"luas UB dan tinggi UB"
"kita bicara tentang UPN dan UTM anjir"
"ya maaf"
"gedungmu memanjang ya, kalau di UPN bentuknya kotak, dan bisa dikatakan ada seperti gang, disitu ada gazebo, taman kecil juga bisa"
"ya gimana lagi, disini loh mangkrak, gak kelar, tapi bagoos kann, dan ada lift nya di fakultas ekonomi katanya"
"wih bneran?"
"gak tau hahaha"

Di akhir perjalanan mengelilingi kampusku, aku mengajaknya sholat di masjid kampus, dan aku tak memberi tau dia tentang air di masjid.

"Rasanya kayak sop kan?"
"Ini pertama kalinya aku wudhu pake air asin"


Perempuan dan rokoknya

Untuk Perempuan yang Sedang Merokok



     Saya menjumpai perempuan yang sedang merokok sembari minum kopi hitam di taman kota. Terlihat perempuan tersebut mendapat tatapan aneh dari setiap orang yang melihatnya. Tidak aneh jika hal itu terjadi, karena memang stigma dalam masyarakat perempuan yang merokok adalah hal yang tabu. Bukankah merokok merupakan hak dari manusia?

     Tidak sepenuhnya bisa dikatakan hak asasi manusia, walaupun mayoritas masyarakat Indonesia sudah biasa dengan adanya perokok. Selain itu ada beberapa alasan orang merokok salah satunya cara untuk mengekspresikan kebebasannya. Dan alasan mengapa seperti itu, mungkin, perokok memiliki kehendak untuk memilih segala yang disukainya tanpa paksaan.

     Walaupun ada perbedaan pandangan bagi perokok perempuan dengan laki-laki. Kebanyakan, stigma dalam masyarakat terhadap perempuan perokok masih tergolong buruk dan negatif, banyak dari mereka yang menyematkan label “nakal” atau “bukan perempuan baik” pada perempuan perokok. Padahal merokok bisa dibilang adalah hak dan kebebasan dari semua orang. Jadi tidak baik juga menjudge seseorang hanya karena dia merokok.

     Sedangkan untuk perempuan yang merokok, ada yang menganggap hal menjadi sebuah identitas perlawanan atas pembatasan gender. Seperti penolakan paham dalam masyarakat bahwa rokok untuk laki-laki boleh, sedangkan untuk perempuan tabu dan bahkan bisa diklaim haram. Walaupun tidak ada jaminan bagi perempuan yang merokok sudah menyamakan derajatnya dengan laki-laki.

     Kebanyakan pula masyarakat mengatakan “perempuan kok merokok” bukan “kenapa perempuan merokok?” ini sama halnya dengan pertanyaan kepada laki-laki tentang alasan mereka merokok, perempuan juga mempunyai pemikiran sendiri tentang alasan  mengapa mereka merokok, misalnya stress, ikut-ikutan atau mungkin karena pengaruh lingkungannya.

     Dalam paham feminisme, yaitu menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak perempuan  dengan laki-laki. Perempuan juga punya hak yang sama tentang merokok, tanpa harus membedakan gender. Karena merokok adalah hak dan kebebasan milik semua orang, maka dari itu, tak ada larangan khusus bahwa perempuan dilarang merokok.

”kebebasan bukan suatu tujuan, tetapi jalan menemukan batasan.” Emha Ainun Nadjib.

     Akan tetapi, bila saya mengutip dari perkataan Emha Ainun Najib, yang memiliki maksud bahwa semua kebebasan adalah jalan menemukan batasan. Di sini saya misalkan dengan rokok, memang benar merokok adalah hak dan kebebasan semua orang, namun perokok pun harus tau batasan-batasan dari kebebasan tersebut. Misalnya, tidak merokok di tempat umum yang bisa mengganggu orang lain.

     Dalam hal kebebasan merokok bagi perempuan terdapat juga batasan-batasan, entah batasan itu dalam bentuk kultur, agama ataupun kesehatan bagi perokok, lebih-lebih perokok itu adalah seorang perempuan. Dengan adanya batasan-batasan itu pun lebih mengetahui sisi positif dan negatif dari perbuatan tersebut, dimana ada saatnya untuk berhenti, tetap melanjutkan atau hanya mengurangi porsi.

     Tentang  kultur budaya di Indonesia, terutama di daerah Jawa, pandangan masyarakat adalah faktor utama tentang batasan atas kebebasan merokok kepada perempuan. Kultur yang sudah ada dan turun temurun dari nenek moyang menganggap bahwa perempuan yang merokok adalah seorang  pelacur atau perempuan yng tidak punya etika.

     Secara tidak langsung pun dengan adanya kultur atau norma adat yang seperti itu, membuat perempuan yang merokok lebih memperhatikan sekitarnya. agar tak mendapat label atau pandangan buruk dari lingkungan di sekitarnya. Perempuan itu masih memiliki hak dalam kebebasan merokok akan tetapi kebebasannya di batasi oleh kultur budaya dan  bacotan tetangga.

     Kebanyakan batasan diciptakan oleh manusia untuk menjadi tolok ukur dirinya dengan orang lain, semisal dalam hal kesehatan, seorang perokok mulai merasakan batuk parah, tandanya dia harus berhenti sementara untuk beristirahat, namun saya pernah bertanya kepada senior tentang mengapa dia masih merokok padahal kesehatannya sedang tidak baik. Katanya yang tau batasan diri hanyalah diri sendiri, dia juga berpendapat bahwa tidak merokok hanya akan membuatnya kerepotan dan semakin sakit.

     Padahal yang  sebenarnya hal ini mungkin bisa dibilang sebagai sugesti otak, karena dia telah merasa candu akan rokok. Jelasnya banyak yang merokok dan masih sehat-sehat saja.

Memang untuk laki-laki atau perempuan yang memilih menjadi perokok telah mengetahui batasan ketika memulainya?

ngakak bareng sama komik "Soul Of Neko"

Apa sih Soul Of Neko itu??


     Jadi gini.. siapa yang nggak tau komik "Soul Of Neko" aka SoN?? Kalau nggak tau tandanya lu kurang hiburan.. kenapa mimin bilang begitu? Soalnya komik ini asli bikin ngakak.. mulai dari humor receh sampe humor yang bener-bener bikin ngakak.. 
bagi yang belom tau.. sini mimin kasih tahu.. (eh kasih tau maksudnya perasaan sama aja deh)

komik SOUL OF NEKO karya komikus indonesia "Amsal Samuel" ini menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda bernama "Tovan Hartoto" atau biasa dipanggil Oto, seorang remaja yang sama sekali tidak memiliki hasrat dalam kesenangan pada masa mudanya.. nggak kayak kid jaman now deh..
Sejak lahir aja mukanya Oto udah datar banget (gak punya ekspresi lain ya?) wajahnya ngeselin bangsat!!!!

  
(Soul of Neko eps 10)

(Soul of Neko eps 9)

karna nggak pernah senyum.. Oto sering banget dimarahin sama bosnya. (Hayo sapa yang pernah kaya Oto??) ya jelas lah dimarahin pembeli aja takut sama Oto :v
Oto sejak kecil sudah ditinggal ortunya..(kasian ya) tapi eits ortu Oto tak meninggal dengan wajar.. (pasti kepo ya kenapa??) 
Sampai pada suatu hari Oto menenukan seekor kucing yang kelaparan, dan Oto memberikannya makanan.
(Soul of Neko eps 6)

Siapa sangka kucing yang dia temukan di pinggir jalan itu bisa menjadi sahabat terbaik Oto dan meubah Oto menjadi PLUS ULTRA!1!1! (eh nggak njir)

 
(Soul of Neko eps 7)

Seperti peliharaan pada umunya Oto memberikan nama kucing itu dengan nama Nyaw (imut anjir!!!!)



Belum lama memiliki sahabat baru, Oto harus menerima kenyataan bahwa Nyaw telah mati tertabrak motor (kejam amat yang nabrak!!)
  
(Soul of Neko eps 13)

Oto sedih banget karena kehilangan satu-satunya sahabat yang dia punya. Sampai dia ingin bunuh diri. (se depresi itu kah.. kasiann)

Eits, tapi ternyata ada yang tiba-tiba nolongin Oto. Hm…kira-kira siapa ya yang nolongin Oto ? 
BAGI YANG KEPO DAN PINGIN TAU.. YUK BACA KOMIKNYA DI SINI
ada juga 

fb dari authornya :  https://web.facebook.com/amsalsamuel


                                         




















AKU? JADI TEAM SUKSES? HAHAHAHA!

AKU? JADI TEAM SUKSES? HAHAHAHA! 


                 Saya akui, kaget juga mendapat chat dadakan setelah WhatsApp saya kembali normal, chat yang meminta saya menjadi team sukses suatu paslon dalam pemilihan. Saya tak berminat dalam hal ini, saya tidak tau orangnya langsung dan itu cukup membuat saya berpikir bahwa golput adalah pilihan yang bagus. Saya hanya tau paslon satunya, karena dia salah satu anggota “keluarga” yang cukup besar dan berpengaruh di kampus saya. Ternyata setelah saya telusuri kedua paslon sama-sama dari “keluarga” yang berpengaruh di kampus, maaf sebelumnya saya tak mencari info yang lebih dalam mengenai kedua paslon.
                Setelah beberapa kali chat dengan dia, dia mengajak saya untuk hadir dalam suatu forum dengan beberapa orang yang “katanya” sepemikiran, oke saya setujui ajakan tersebut, saya mulai penasaran dengan forum yang akan diadakan nanti, apakah ada unsur, hasutan? nyinyir? Bahasan “keluarga” atau hal yang sudah terduga maupun tak terduga.
              Dua “keluarga”, dua paslon, dua kandidat, dan saya harus memilih salah satu diantara mereka, apakah saya akan menjadi tim sukses dari “keluarga” ini, “keluarga” satunya atau malah saya tetap menjadi golongan netral tanpa “keluarga” dan tak memilih? Dalam hal ini, kerumitan mulai muncul, mungkin gara-gara story WA tak sengaja saya, menjadikannya bumerang bagi saya, antara penyesalan dan membuat saya makin tertantang untuk lebih tau tentang “keluarga” mereka, lebih tau tentang sisi kelam suatu pemilihan, dan berbagai macam kampanye yang dilakukan oleh calon-calon pemimpin ini.
                Sesuai dugaan saya, saya secara tidak langsung dijadikan calon kader antara dua kubu dikarenakan posisi saya sebagai komting, mungkin mereka mengira saya sangat berpengaruh dikelas dan mereka bisa dengan mudah mendapatkan suara dari anggota kelas saya. Akan tetapi setelah saya bertanya dengan anggota kelas saya memang di pecah menjadi 3 kubu. pemilih Paslon nomer satu sangat dominan dikelas, wajar sih, soalnya mereka kebanyakan satu “keluarga”. Sedangkan anak yang tetap menjadi netral pun tak sedikit, mereka mengira, seandainya memilih ini atau itu, takut terjadi suatu perpecahan. Dan saya disini sebagai komting juga harus bersikap tegas, meskipun terdapat banyak ajakan, hasutan, dan lain sebagainya dari tim sukses kedua paslon. Saya bingung, saat saya mengatakan tetap netral, saya dikatakan munafik, munafik dalam hal apa? Toh saya tidak tau mereka berdua cocok sebagai pemimpin atau tidak, dan hak pilih tetap ditangan saya. Satu hal lagi yang membuat saya bingung, kenapa banyak yang mengira sebagai seorang anggota “keluarga”? Kuning mengira saya hijau, sedangkan hijau mengira saya kuning. Sekali lagi maaf, saya tim netral tanpa memandang kubu, dan hak pilih tetap dipegang setiap orang tanpa harus mendengar hasutan atau lain sebagainya.


SELAMAT MEMILIH PEMIMPIN :)   

“Keluarga” mendominasi pemilihan?

Keluarga mendominasi pemilihan?


          Ya sebagian dari kalian pasti sudah punya hak suara untuk memilih, termasuk saya juga hehehe, disini saya hanya akan bahas dikit masalah “keluarga” yang mendominasi pemilihan agar si calon “menang” hiya..hiya..hiya.. Cukup menarik dalam hal ini, saya akui, memang saya sudah sering melihat hal seperti ini sejak smp. “Keluarga” sangatlah aktif dalam mendominasi pemilihan, apa itu termasuk dalam hal ketidak adilan? Konspirasi? atau apa?
           Malam ini saya sedikit belajar dari forum terbuka, yang tak sengaja saya datangi setelah melihat FEB bersholawat. Forum yang dibuka oleh anak PBI ini mengangkat topik yang cukup saya pahami, tanpa menyebutkan inisial atau apapun saya mulai nyambung pada pembahasan topik mereka. Saya akui, pertama saya merasa tidak cocok dalam forum terbuka dengan mereka, yang hanya saya sendiri prodi berbeda dari mereka. Tapi saat pembahasan mulai terfokus dan mulai membahas topik inti, saya merasa tertarik dengan forum ini, mereka membahas tentang “keluarga” yang mendominasi pemilihan, dalam suatu himpunan. Maksud dari “keluarga” disini pun saya sangat-sangat paham, padahal mereka tak memberi inisial atau apapun, mungkin kalian sebagai pembaca telah paham maksud “keluarga” disini.
            Apa perlu saya permudah maksud “keluarga” disini? Saya kira itu tidak perlu, saya takut, tulisan saya menjadi bumerang yang berbalik melawan saya. Cukup kita sebut mereka “keluarga”. Saya akui memang benar, di kampus saya ini “keluarga” sangatlah mendominasi, tak hanya dalam himpunan, bahkan dalam lingkup yang sedikit lebih luas, seperti yang saya bahas di postingan sebelumnya (Link : di sini), para pemilih tidak benar-benar tau siapa yang mereka pilih, mereka hanya tau “oh ini kakakku” “oh ini adikku” “loh ini satu ‘keluarga’ denganku”. Hal ini sudah tidak asing bagi saya, karena memang “keluarga” sangat-sangat mendominasi, yang saya takutkan hanyalah, ketika “keluarga” mereka berbeda, akan terjadi perpecahan atau rival di antara hal ini.
            Saya sempat beragumen dalam forum ini, “mungkin pikirnya, “ini keluargaku, aku tau **** mempunyai potensi dan dapat mempertanggung jawab setiap apa yang dia lakukan, dia cocok jadi pemimpin” tapi saya juga tidak tau, karena pikiran manusia terkadang susah ditebak”. Dan respon yang saya dapat cukup mengejutkan, ekspresi mereka seperti tak suka saya menjadi penyusup, tapi mereka tetap memberikan feed back yang bisa saya pahami, dan saya terima. Tak ada yang salah bila “keluarga” mendominasi, hanya saja, semua harus dipikir secara realistis, bila asal pilih atas nama “keluarga” tanpa tau potensi, dan lain-lain, sama saja melakukan hal bodoh yang merugikan.
             Pada forum ini juga menyinggung tentang, bila kandidat dari “keluarga” terpilih, maka pemilih memiliki alasan untuk diangkat menjadi sesuatu yang “penting” dalam lingkup tersebut, mungkin bisa di ibaratkan sebagai berikut, Presiden adalah salah satu dari aggota “keluarga” dan presiden punya hak dalam memilih menterinya, yang dipilih pasti anggota “keluarga”nya.
         Sebagai orang netral yang tidak ikut apa-apa, ada benarnya juga pembahasan dalam forum ini, meskipun sedikit menyinggung beberapa “keluarga” yang dominan di kampus saya, tapi memang benar itu apa adanya. 


nb : merah,kuning,hijau->"keluarga"

Pemilu Presma Penting Gak Sih?

Pemilu Presma Penting Gak Sih?




            Karena saya mahasiswa baru, yang ya.. baru pertama kali ini melihat kampanye calon presma di kampus secara langsung. Saya cukup kaget, ternyata cara kampanyenya seperti ini. Share brosur di tiap grup, tiap story whatsapp, story ig, di facebook, bahkan memasang spanduk besar di pinggir jalan utama kampus. Sangat menarik, karena saya sebagai mahasiswa hanya sekedar tau gambar calon Presma, sama halnya beberapa mahasiswa yang sempat saya tanyai tentang siapa calon Presma sekarang, kebanyakan mereka hanya sekedar tau nama, tanpa tau orangnya, jadi yang harus disalahkan siapa? Apa mahasiswa? Atau calon Presma yang kurang me”rakyat”? ya kita tidak bisa menyalahkan pihak manapun.

“Aku loh tidak tau calon Presma sekarang”
“Kamu pernah lihat jokowi? Nggak kan? Ya jangan salahin calon Presma. Kalau kalian tidak tahu orangnya”
“Presma itu yang bagian apa sih?”
“Kan sudah ada debat antar calon Presma”
“Bahkan visi dan misi aku gak tau”
“Presma itu kayak Ketum HMP kan?”
“Peduli amat sama gituan”
“Aku loh baru tau kalau kayak politik”

             Itu beberapa pendapat mereka, setelah saya tanya tentang “Pemilu Presma di UTM” dan ya menurut hasil yang sudah saya dapatkan, kebanyakan mahasiswa tidak peduli dengan Pemilu Presma. Jadi penting gak sih pemilu ini? Seharusnya saya bertanya pada senior tentang pemilihan Presma dan cara apa yang digunakan dalam memilih. Wajar kah kalau banyak mahasiswa yang tidak tau calon Presma? Atau malah berbeda dari tahun tahun kemarin karena sekarang semua sudah canggih, bisa menyebar brosur tanpa harus di sebar langsung.
       Dan apakah UTM menggunakan dasar “Demokrasi Terbuka” atau bahkan “Demokrasi Terpilih”?. Sejauh ini, yang saya ketahui, di HMP saya menggunakan “Demokrasi Terpilih” yaitu perwakilan 5 orang perkelas, bukannya itu cukup tidak adil bila dalam pemilihan ketua umum HMP, hanya dipilih bedasarkan dari 5 orang yang terpilih untuk memvoting calon ketum HMP yang baru.
Kata-katanya, di UTM menggunakan Demokrasi Terbuka dalam memilih, jadi seluruh mahasiswa akan memilih siapa yang menjadi presma selanjutnya, tak baik juga saya mengatakan ini hanya bermodalkan “katanya”. karena pemilihannya di adakan besok, saya mungkin akan menyunting tulisan ini dan memperbaikinya agar tak bermodalkan “katanya” lagi, maaf sekali kalau ada kata yang kurang pas, atau tidak sesuai. Karena ini hanyalah pertanyaan dan opini yang ada di pikiran saya. Sekali lagi maafkan saya.


AYO MEMILIH! JANGAN GOLPUT YA!

DARAH MENETES TANDA DEPRESI ATAU PANSOS?


     Beberapa orang melakukan hal yang bermacam-macam untuk melampiaskan sesuatu, termasuk self harm, yang saya ketahui dari self harm adalah kegiatan ‘disegaja’ menyakiti atau melukai diri sendiri dan tak sampai menghilangkan nyawa, contohnya menyayat anggota tubuh untuk mendapatkan rasa kepuasan tersendiri, meskipun self harm tidak harus dengan cara menyayat fisik sih, sering kali selfharm juga di lakukan dengan cara lain, mungkin dengan memukul sesuatu misalnya tembok hingga tangan retak, berdarah, atau mungkin lebih parah dari itu. 
     Saya seringkali tak paham dengan pelaku self harm, mungkin karena saya tak pernah melakukannya secara langsung, jadi saya tidak tahu maksud dari pelaku self harm melakukan hal yang menurut saya itu sesuatu yang tidak berguna, siapa yang mau menyakiti diri sendiri? Atau mungkin dia seorang masokis? (ah aku rasa tidak, karena kata masokis harusnya hanya digunakan dalam seksualitas) Hmmm saya tidak tahu alasan mereka melakukan itu, mungkin saya akan bertanya pada teman-teman saya yang sering melakukan self harming, atau ya bisa disebut self injury sih.
     Yang saya ketahui ada beberapa alasan seseorang melakukan hal nekat tersebut. Pertama, karna depresi dan tertekan akan sesuatu, self harm adalah cara mereka mengalihkan perhatian dari tekanan stres tersebut, satu hal yang ingin saya sampaikan, mengapa tidak melakukan hal lain, dan disinilah saya tidak tahu harus memberi saran apa, karena saya tak pernah melakukannya, mungkin saya hanya sekedar menyarankan melakukan sesuatu yang disukainya, meskipun sering kali saran itu tak mempan untuknya, karena setiap orang punya cara tersendiri untuk melampiasakan kecemasan atau ketegangan tersebut. Kata sumber terpercaya saya, ya aslinya adalah teman saya, mengatakan bahwa melakukan self harm adalah cara dia mengeluarkan segala kecenderungan yang agresif dan kejam tanpa harus menyakiti orang lain, binatang peliharaannya, (kasihan kucing-kucing dan anjingnya bila dijadikannya pelampiasan, saya tak rela melihat doggo yang unyu itu tersakiti) atau merusak barang-barang disekitarnya (barang-barang disekitarnya itu cukup menguras dompet, yaitu figma, action figure, nendo, gunpla gundam dan gunpla mazinger z, untuk yang satu ini saya dari lubuk hati yang paling dalam benar-benar tak rela melihatnya kacau karna dijadikan pelampiasan).
     Kedua, menghindari mati rasa, katanya, (ah saya terlalu banyak ‘katanya’, apa saya harus mencobanya langsung? Hahaha) orang yang memiliki trauma psikologis berat bisa menjadi mati rasa. Karena kejadian yang dialami begitu menyakitkan atau memalukan, seseorang bisa saja mengalami disolasi. Disolasi adalah suatu keadaan dimana seseorang menghapus ingatan terhadap suatu kejadian atau menghapus perasaan yang muncul ketika mengalami suatu peristiwa traumatis. Biasanya hal ini terjadi diluar kesadaran. Seseorang merasa hampa, kosong, dan tidak berguna ataupun tidak berharga, dengan rasa sakit tersebut mengingatkan bahwa dirinya masih hidup dan masih merasakan sesuatu layaknya manusia lain.
     Ketiga, menghukum diri sendiri, ya biasanya ini adalah korban kekerasan, baik emosional, fisik, maupun seksual, sering disalahkan dan di rendahkan, membuat seseorang membangun sugesti bahwa dia pantas di salahkan, merasa jijik pada diri sendiri dan benci pada diri sendiri. Dalam benaknya setiap melakukan kesalahan harus mendapatkan hukuman yaitu dengan cara menyakiti diri sendiri, misalnya membenturkan kepala atau bahkan menyayat diri.
     Keempat, mencari kepuasan, (wait… macam candu saja) mereka melakukan hal yang tergolong gila ini hanya untuk mencari kepuasan semata, beberapa orang merasa senang melihat darahnya sendiri atau merasakan sensasi fisik yang sangat kuat. Pandangan ini bisa mengarah pada kecanduan.
     Kelima, menyampaikan perasaan, seringkali seseorang melakukan self harm tidak benar-benar ingin menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. Namun mereka bermasalah dalam berkomunikasi, mereka tidak paham mengomunikasikan perasaan negatifnya, bisa juga karena dengan memberitahu orang lain membuatnya tampak lemah (biasa.. bacotan netizen, hmmm), terkadang, perasaan negatif yang terlalu kuat untuk dibendung, membuat seseorang memilih menyakiti dirinya untuk berkomunikasi (susahnya kamu berkomunikasi kawan, hingga kamu melakukan hal yang tergolong gila ini) 
     Keenam, PANSOS atau CAPER, hal ini benar-benar membuat saya tak habis pikir, bagaimana ada manusia yang ingin terkenal dengan cara menyakiti diri sendiri, memfotonya dan mempostingnya ke akun sosial medianya, (are you crazy?) seringkali mereka upload foto darah yang banyak, seolah-olah sedang kenapa-kenapa, saya tau ini sinyal atau petunjuk kepada seseorang, akan tetapi tidak elit bila melakukan hal gila itu dan menyebarkannya di sosial media, (kamu maunya apa? Terkenal karena depresinya?). saya juga sering kali melihat seseorang menyayat tangannya dan membentuknya menjadi sebuah nama, edan! Tak pernah saya sangka, korban bucin akan melakukan hal itu dan menunjukkannya kepada orang terkasihnya alias pacarnya.
     Sekali lagi saya katakan, karena saya tak pernah melakukan self harm, saya masih sering menganggap kegiatan itu adalah aksi untuk mencari perhatian, tidak tahu rasa syukur dan ajang seseorang untuk pansos dan terkenal, bila seseorang menunjukkan bekas lukanya kepada orang lain, meskipun saya juga sedikit tahu alasan mengapa seseorang melakukan hal tersebut dari pengalaman teman saya sendiri, karena pelaku self harm sering kali menyembunyikan bekas lukanya, sulit membedakan manakah pelaku self harm, mana kah yang tidak menjadi pelaku self harm. 

     Saranku saya kedepannya adalah jangan langsung mencemooh atau menjahui pelaku self harm, kenali alasan mengapa mereka melakukan hal itu, karena seseorang yang melakukan hal itu bukan ingin mencari masalah, melainkan itu adalah cara mereka mengatasi permasalahan yang dialaminya. Kuat lemahnya seseorang itu tak bisa dipukul sama rata.


ANDAI KAMU SEORANG LGBT..


 
     LGBT(Lesbi,Gay,Biseksual,Transgender) mungkin sudah menjadi hal yang tidak asing di telinga bukan? Lesbi adalah orientasi seks dimana perempuan menyukai sesama jenis perempuan, Gay adalah sebutan untuk seorang laki-laki yang menyukai sesama laki-laki, sedangkan Biseksual adalah sebutan untuk orang yang bisa tertarik kepada laki-laki atau perempuan. Transgender sendiri adalah istilah yang di pergunakan untuk orang yang cara berperilaku atau berpenampilan berbeda atau tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.
       Maka dari itu bagaimana bila kita menguak, apa itu LGBT secara lebih terbuka dalam sudut pandang LGBT dan PRO LGBT?. Setiap orang punya pendapat sendiri tentang LGBT, jadi kita akan liat dari sisi kaum LGBT terlebih dahulu, bukan maksud saya untuk pro pada LGBT, saya hanyalah kaum netral yang tinggal dan hidup di antara mereka, mungkin beberapa kalian akan berpikir bila saya menulis ini, saya termasuk dalam golongan mereka, itu hak anda dalam menilai saya, tapi akan saya beri tahu, saya hanyalah kaum netral tanpa pro dan kontra terhadap kaum ini.
       Saya akui, dulu saya pernah menjadi kaum pro dan kaum kontra dalam menangani kaum LGBT, tapi saya sadar, menjadi kaum pro ataupun kaum kontra dalam kasus ini tak membuahkan hasil yang berkenan di hati, maka dari itu saya memilih menjadi kaum netral di antara mereka. Saat saya menjadi kaum pro dalam hal ini, saya sadar tak selamanya LGBT itu ingin menjadi seperti itu, di bilang penyakit pun tidak elit dalam hal ini, meskipun LGBT dapat menyebar layaknya sebuah penyakit, para kaum LGBT sering kali bingung pada dirinya sendiri, bagaimana dia bisa bernafsu hanya dengan melihat sesuatu dari sesama jenisnya, menurut beberapa penelitian LGBT digolongkan dalam “masalah kejiwaan” bukan gangguan kejiwaan. Dalam hal ini sering kali orang-orang menganggap LGBT adalah orang gila yang suka terhadap sesama jenisnya, bila kamu di posisi mereka, itu akan sangat menyakitkan, siapa yang mau di anggap gila? dan disini peran kaum pro ada, yaitu membuat kaum LGBT dipandang dalam sudut yang sedikit positif, mengapa saya bilang “sedikit” karena memang sisi positif dalam LGBT tidaklah banyak. Salah satu peran kaum pro LGBT adalah menampung semua masalah pada kaum LGBT dan menanganinya, dan juga menerapi bagaimana agar mereka menjadi normal kembali, meskipun membuat kaum LGBT menjadi normal itu susah. Kaum pro LGBT lebih memikirkan hak kemanusiaan, LGBT juga manusia dan mempunyai hak tersendiri dalam seksual. Beberapa kaum LGBT ingin menjadi normal tetapi itu hal yang sulit dilakukan, meskipun sudah beberapa kali terapi, menghilangkan rasa nafsu yang ada itu bukanlah hal yang mudah. LGBT juga seringkali tidak diterima oleh masyarakat yang kebanyakan adalah kaum kontra, mereka juga punya hati, beri mereka solusi, jangan hanya cemohan, makian, dan hal-hal yang menyakitkan di telinga dan di hati.
     Banyak alasan mengapa seseorang menjadi LGBT, termasuk faktor keluarga, dalam faktor ini biasanya LGBT dijadikan sebagai pelarian dari apa yang ada di keluarganya, misalnya seorang anak perempuan mendapatkan perlakuan kasar atau tindak kekerasan lainnya dari ayah, saudara laki-laki atau bahkan dari ibunya, mengakibatkan trauma yang nantinya anak perempuan tersebut bisa saja memiliki sifat atau sikap benci terhadap semua laki-laki, dan bisa saja mencari pelarian pengganti orang tua dari sesama jenisnya.
Faktor selanjutnya adalah faktor lingkungan dan pergaulan, faktor ini yang sering kali menjadikan seseorang menjadi kaum LGBT. Masuknya budaya-budaya yang berasal dari luar negeri juga dianggap menjadi penyebab seseorang untuk ikut menjadi bagian LGBT, budaya ini yang mengenalkan kepada mereka apa itu LGBT. Biasanya budaya ini yang mengenalkan apa itu hak kebebasan dalam seksual, maka dari itu populasi LGBT semakin hari semakin bertambah.

  Jadi menurut kalian LGBT itu seperti apa? Bukankah mereka juga manusia? Apa kamu akan memilih menjadi Kaum netral, kaum pro, kaum kontra atau jangan-jangan kalian bagian dari kaum LGBT itu sendiri? 

dewasa? what the fuck about that


Aku tak mau jadi dewasa, aku tak mau semakin tau tentang munafiknya manusia, aku tak mau!
Menjadi dewasa itu menyakitkan, aku tak mau! AAAAKU TAK MAU!
Menanggung beban lebih banyak, di terpa masalah lebih banyak, aku tak mau! Aku tak akan sanggup!
Menjadi orang lain, di tuntut ini itu, aku tak mau! Benar-benar tak mau!
Membunuh ego, membakar gengsi, menyembunyikan malu, aku tak mau!
Menjadi dewasa tak selamanya memberimu kebebasan, dewasa itu satu hal yang penuh akan sandiwara, lelah menjadi dewasa, tertekan menjadi dewasa, depresi menjadi dewasa,
Menjalani kerasnya hidup sebagai orang dewasa, aku tak mau, aku tak sanggup.

IJINKAN AKU UNTUK TAK PERNAH DEWASA

Saat kau bimbang akan sesuatu apa yang kamu lakukan?


Aku sekarang merasa bimbang akan sesuatu, merasa terbebani, merasa takut, merasa kecil, merasa tak berdaya, dan merasa ilmu tentang kebebasan berpikir tak ada guna sekarang, aku merasa seperti bukan diriku.. aku bebas tapi ada kala aku merasa terkekang, apa guna aku belajar "be yourself" jika aku tak mengenal diriku yang sekarang? Apa yang harus aku lakukan?.
 Di hantui rasa takut, di hantui rasa cemas, rasa marah, jengkel, dan dendam, apa yang membuatku dendam? Padahal tak ada yang berbuat buruk kepadaku? Aku benci mengakuinya, tapi aku merasa sakit hati, dan aku tak suka sakit yang tak terlihat seperti itu, sakit apa itu? Tanpa wujud cuma ada rasa kesakitan, aku benci hal itu!
 Aku merasa mulai membenci diriku yang sekarang, penuh akan pura-pura, seakan menjadi orang lain, aku benar-benar benci, apa guna mereka bilang "jadi diri sendiri aja tan" bila menjadi diri sendiri tak di terima, sama halnya berharap kepada pedang agar menjadi keris, tanpa harus meleburkan si pedang, tak akan bisa! Berapa kalipun mencoba.
 Dan aku bimbang, perlahan-lahan di hantui rasa takut akan mimpi buruk yang menjadi nyata, aku benar-benar takut, apa yang harus aku lakukan?

APA YANG KAMU LAKUKAN KETIKA BIMBANG?

Rokok vs Self injury

Rokok? di samain sama Self Injury? Hahahaha yang perokok pasti banyak yang gak mau di samain, sama orang yang sering self injury, begitu pula sebaliknya.. kenapa? Kenapa seperti itu?
Rata - Rata, dari apa yang aku lihat, perokok menganggap kegiatan self injury sebagai kegiatan yang tak berfaedah, sama halnya orang yang sering melakukan self injury mengira rokok tak bisa menyelesaikan masalah, malah menyakiti diri sendiri dalam jangka panjang.. bukannya sama aja? Kadang aku heran sama orang yang sering berdebat dalam hal ini.. para perokok yang mempertahankan argumen tentang "rokok pelarian yang lebih baik dari pada sayat - sayat gak jelas di tubuh". Dan orang yang self injury dengan argumennya "rokok itu membunuhmu".
Dalam situasi ini, perlu beberapa sumber dan info lebih lanjut, bagus kalau aku ketemu dengan orang yang perokok dan self injury.
Beberapa orang mengira self injury hanya sayat - sayat tetapi, lebih luasnya self injury adalah kegiatan menyakiti diri sebagai pelampiasan emosi, seperti memukul tembok, atau menjambak rambut.

"JADI APA PENDAPATMU TENTANG PEROKOK DAN ORANG YANG SERING MELAKUKAN SELF INJURY?"

Lirik Lagu BAD LIAR | IMAGINE DRAGON

LIRIK LAGU IMAGINE DRAGON "BAD LIAR" Jadi sekarang itu aku lagi seneng banget sama lagu Bad Liar milik Imagine Dragon.. ...